Kamis, 20 Oktober 2022

Epilog

 

Pesta pernikahan di gelar dengan meriah di sebuah ballroom hotel. Queen tampak begitu cantik dengan balutan gaun berwarna putih kesukaannya itu. Hari ini adalah hari yang spesial untuknya tapi ia tetap menggunakan gaun itu. Menurutnya gaun itu sama berartinya dengan hari ini, pasalnya gaun itulah yang mempertemukan dirinya dengan Fabian, dan membuat hidupnya menjadi sebahagia hari ini. 

Usai menyalami para tamu undangan, acara hiburan pun dimulai. Proyektor menampilkan sebuah film dengan dinding putih sebagai layarnya. Film itu berisi tentang perjalanan kisah cinta Fabian dan Queen. Namun, yang membuat mereka tercenggang adalah sebuah foto yang dimuat di sebuah majalah yang diambil jauh sebelum mereka saling mengenal. Sang narator pun tahu bahwa kedua mempelai itu penasaran dengan foto tersebut, hingga kemudian sang narator pun menceritakan perihal foto tersebut.

"Ya, pasti anda semua sangat penasaran dengan foto ini kan?" tanya sang narator sembari menunjukkan semua foto anak kecil perempuan yang berjalan merengek dibelakang mamanya, sementara tak jauh dari itu terdapat foto anak lelaki yang berdiri tepat disamping gadis itu sedang memakan ice cream dengan tangannya yang digandeng oleh orang tuanya yang berjalan berlawanan arah dengan sang gadis kecil itu.

Sang narator pun kembali berujar kemudian.

"Inilah takdir Tuhan, mereka yang dulunya tidak saling mengenal ternyata fotonya pernah diabadikan bersama. Kami tidak menyadari sebelumnya tapi, ketika kami mengkonfirmasi foto itu pada keluarga masing-masing mereka pun membenarkan bahwa gadis kecil itu adalah Brigitha Queenza Caesarlyn dan anak laki-laki kecil itu adalah Fabian Kevlar Antonio, jika anda semua tidak percaya inilah foto mereka ketika kecil yang diabadikan keluarga masing-masing," jelas sang narator. 

Semua tamu undangan pun bertepuk tangan riuh melihat betapa takdir Tuhan mempertemukan mereka berdua tanpa mereka sadari sebelumnya.

"Jalan takdir memang begitu indah bukan," ucap Queen.

"Iya, gue nggak tahu kalau kita dulu pernah foto bareng," jelas Fabian.

"Wah...wah...kalian ini memang bener-bener berjodoh ya...," ucap Aqilla kemudian yang duduk di samping Queen di tempat duduk yang mengarah tepat menghadap layar, tempat duduk itu memang di desain seperti itu karena Queen ingin dia berbaur dengan tamu undangan dan bukannya duduk dipelaminan seperti ratu sejagad yang dijadikan tontonan bagi semua tamu.

"Iya, jodoh emang nggak kemana lagi Qilla, kita-kita juga gitu kan? Loe sama Kenzo, dan gue sama Reynand," ucap Anastasya.

"Hahaha..iya...iya....semua dikemas dengan indah oleh Tuhan Cha," ucap Aqilla. 

"Duuhhh...padahal dulu ada yang bilang nggak mau nikah muda ya kan Qill?" sindir Kenzo pada Fabian.

"Iya nih Ken, eh gak taunya malah dia nikah lebih dulu dari kita, ckckck...," ujar Aqilla.

"Ihh...kalian berdua nih berisik....," ucap Fabian yang tersipu malu karena kemakan omongannya sendiri.

Reynand, Anastasya, Aqilla dan Kenzo pun menertawakan tingkah Fabian yang pada akhirnya mengikuti jejak mereka juga untuk menikah muda meskipun sebelumnya lelaki itu sama sekali menolak usulan menikah muda tersebut dari dulu.

Cuuuppp

Queen mengecup bibir Fabian yang manyun karena ledekan para sahabatnya itu.

"Jangan cemberut lagi sayang....," ucap Queen menenangkan Fabian dengan kecupan singkat.

"Ciee...cie.,....ada yang belain loe nih sekarang kalau lagi kita bully...," ucap Kenzo.

"Wuiihhh...gila...sahabat gue si Queen kenapa jadi berubah Agresif gini...," ucap Anastasya.

"Bukan agresif itu Cha, tapi so sweet...," tambah Aqilla.

Dan akhirnya semuanya pun tertawa bersama-sama. Binar kebahagian terpancar tidak hanya di wajah Queen maupun Fabian tetapi juga pada kedua orang tua mereka yang akhirnya merasa bisa bernafas lega karena acara perjodohan yang mereka rencanakan berhasil dan menumbuhkan cinta pada kedua insan itu pada akhirnya. 

Cinta itu hadir tanpa kita tahu kapan datangnya dan pada siapa

Kita hanya bisa merasakannya dan biarkan takdir Tuhan 

Yang akan mengantarkan kita pada cinta itu sendiri

Karena sesungguhnya sebaik-baik rencana 

Adalah apa yang telah Tuhan rencanakan untuk kita

My Fiance

The End

 

 

 

 

Lima Belas

 

Queen mendengar banyak cibiran dari para tamu undangan untuk Fabian, bahkan beberapa teman sekolahnya yang mengidolakan Fabian dan menamai Fabian sebagai pria sempurna itu kini mencibir Fabian hanya karena Fabian memiliki satu kekurangan, yaitu tidak bisa bernyanyi dengan baik. Akhirnya Queen pun memutuskan untuk bernyanyi dengan suaranya, ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju podium dengan masih bernyanyi melanjutkan nyanyian Fabian.  

Namun bila hari ini adalah yang terakhir

Namun ku tetap bahagia

Selalu ku syukuri

Begitulah adanya 

 

Namun bila kau ingin sendiri

Cepat-cepatlah sampaikan kepadaku

Agar ku tak berharap dan buat kau bersedih

Semua tamu undangan pun kini beralih menatap Queen. Namun, Queen tak mempedulikannya dan dia tetap bernyanyi hingga podium dan dia di beri sebuah microfon kemudian. Queen pun kini berada di podium tepat disamping Fabian dan mempersilakan lelaki itu melanjutnkan bait selanjutnya dari lagu itu. Fabian pun melakukannya dengan menggenggam tangan Queen, dia merasa sangat tenang dan damai kemudian. Baginya, ia tak peduli meski berjuta-juta orang membencinya, tidak menyukainya atau ilfeel terhadapnya setelah mengetahui bahwa ternyata dia tidaklah sempurna seperti yang ada dalam pikiran mereka, karena baginya yang terpenting adalah Queen. Queen tidak mempermasalahkan hal itu, dan Queen malah memberinya semangat itu sudah lebih dari cukup untuk Fabian. Lagu itupun kemudian berlanjut hingga selesai.

Reff :

Bila nanti saatnya tlah tiba

Ku ingin kau menjadi istriku

Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan

Berlarian kesana-kemari dan tertawa

 

Namun bila saat berpisah tlah tiba

Izinkan ku menjaga dirimu

Berdua menikmati pelukan di ujung waktu

Sudilah kau temani diriku

 

Namun bila kau ingin sendiri

Cepat-cepatlah sampaikan kepadaku

Agar ku tak berharap dan buat kau bersedih

 Back to Reff (***)

Sudihlah kau menjadi temanku

Sudihlah kau menjadi istriku

Setelah lagu itu berakhir, tepuk tangan Anastasya, Aqilla, Kenzo dan Reynand beserta kedua orang tua keduanya pun berkumandang diantara heningnya para tamu undangan. Dan kemudian para tamu undangan pun melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan. 

*****

Beberapa hari setelah pesta ulangtahun Queen, akhirnya mereka pergi berlibur bersama mengingat hari libur sekolah masih ada. Mereka tidur di sebuah villa milik keluarga Queen yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. 

Hari mulai pagi ketika sinar matahari mengintip di balik jendela tempat tidur. Dan seolah kembali pada kejadian beberapa waktu lalu, Queen kembali terkejut karena mendapati lengan Fabian memeluk pinggangnya. 

"Ap...apa yang loe lakuin?" teriak Queen dengan suara menggelegar yang tentu saja membuat semua sahabatnya berlarian menuju kamar Queen dan Fabian.

"Ada apa....?" tanya Anastasya.

"Kamu ngapain Queen, bi.....?" tanya Aqilla kemudian. 

Dan kini ke empat sahabatnya pun menatap Fabian dengan tatapan membunuh. Aqilla, Kenzo, Reynand dan Anastasya pun menatap Fabian penuh dengan selidik.

Sementara Fabian hanya nyengir-nyengir doang menanggapi ke empat sahabatnya itu.

"Apaan sih kalian semua, gangguin aja. Pergi sono....," ucap Fabian.

Tapi ke empat sahabatnya itu enggan untuk pergi dan tetap berdiri di ambang pintu kamar Fabian. 

"Pergi kalian semua, gue mau ngomong sesuatu sama Queen..," tapi mereka tetap tak bergidik.

"Queen, loe suruh mereka pergi atau mereka tahu kejadian semalem ketika loe....," ucapan Fabian terhenti ketika Queen kembali mengingat kejadian tadi malam. Ia tak ingin teman-temannya tahu kelemahannya kecuali Fabian. Karena nya akhirnya ia menyetujui permintaan Fabian untuk menyuruh keempat sahabatnya itu untuk pergi.

"Anastasya, Aqilla, Reynand dan loe Kenzo, sebaiknya kalian pergi saja...," ucap Queen.

"Tap..tapi Queen....," ucap Anastasya.

"Ada sesuatu yang harus gue bicarain sama Fabian. Dan kalian tenang aja, gue nggak papa kok. Si curut satu ini gak bakal berani ngapa-ngapain gue. ..," ucap Queen.

"Ya sudahlah kalau begitu," ucap Aqilla. 

"Awas ya loe bro, kalau berani-berani ngapa-ngapain Queen sebelum kalian resmi menikah, gue gibeng loe...," ancam Reynand.

"Iya, loe juga jangan harap bisa selamat dari gue....," tambah Kenzo dengan nada ancaman yang sama.

Selepas kepergian mereka berempat akhirnya tinggallah Queen dan Kenzo berdua di dalam kamar.

"Ternyata loe sudah sadar kayaknya....," ucap Fabian mendekati Queen dan tentu saja membuat Queen bersemu merah. Ia melakukan hal yang sama lagi seperti waktu itu. Namun, ia tak berteriak kencang saat listrik padam semalam. Melainkan ia masuk ke kamar Fabian dan tidur memeluk lelaki itu untuk menghilangkan rasa takutnya. Fabian pun kini mendekati Queen.

"Ap...apa yang loe lakuin....," ucap Queen. 

Fabian hanya tersenyum melihat tingkah lucu Queen yang masih saja ketakutan padanya. Padahal ini bukan pertama kalinya bagi mereka untuk menjadi sedekat saat ini.

Cuup

"Morning kiss," ucap Fabian kemudian selepas mengecup bibir Queen. "Loe harus mulai terbiasa sayang, karena kita akan menikah sebentar lagi dan aku akan melakukannya setiap hari seperti ini selamanya denganmu...," ucap Fabian di telinga Queen yang tentu saja membuat Queen kembali bersemu merah. 

Fabian pun terkekeh melihat tingkah lucu Queen. Dia pun kemudian tertawa dengan lebar. Sementara Queen yang kini sadar bahwa Fabian tengah mempermainkannya pun akhirnya berteriak.

"Fabiaaaaaaaannnnnnnnnnnnnn....................,"

 

 

 

 

 

Empat Belas

 

Fabian pun kini menatap Queen, begitupula sebaliknya dengan Queen. Mereka saling memandang dan tak menghiraukan hiruk pikuk para tamu undangan yang lainnya. Fabian pun kemudian menarik Queen mendekat ke arahnya, memeluknya dan mencium bibirnya. Fabian mencium Queen di hadapan semuanya, hal itu tidak hanya membuat para sahabatnya terkejut bahkan kedua orang tua Queen yang kini sudah hendak menuju ke tempat Queen berada pun sama terkejutnya, sementara orang tua Fabian malah senyum-senyum dari kejauhan melihat tingkah anaknya itu.

Para tamu undangan yang tadi hiruk pikuk pun kini menjadi hening, menyaksikan dua insan yang saling berciuman itu. Fabian semakin mempererat ciumannya, ia menarik tangan Queen perlahan dan mendekatkan telapak tangan gadis itu di dadanya tanpa melepas ciumannya. Queen merasakan ada gemuruh hebat yang ia rasakan di telapak tangannya ketika ia menyentuh dada Fabian. Akhirnya ia kini pun tahu bahwa lelaki itu benar-benar memiliki perasaan terhadapnya. Bahwa benar ada cinta dalam diri laki-laki itu untuknya dan benar pula bahwa dia bukanlah sebuah pelarian saja. Queen pun membalas ciuman Fabian pada akhirnya. Mereka pun saling berpagutan hingga tepuk tangan para tamu undangan akhirnya menyadarkan mereka, dan Fabian pun melepaskan ciumannya dan berbisik ke telinga Queen.

"Gue nggak bohong Queen, loe merasakannya sendiri kan?" tanya Fabian akhirnya. Dan Queen tak mampu untuk berkata-kata karena menahan gemuruh didadanya yang sama seperti yang ia rasakan di dada Fabian. Ia pun hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Fabian sebagai jawaban.

Fabian mengangkat dagu Queen yang menunduk agar gadis itu menatapnya. Queen pun kemudian menatap mata Fabian, ia melihat ada kesungguhan dari kedua mata lelaki itu. Fabian pun akhirnya berkata lagi dan Queen mendengarkan dengan seksama.

"Gue emang nggak pandai berkata-kata untuk menyatakan perasaan gue sama loe Queen. Begitulah cara gue untuk menyatakan apa yang gue rasain ke loe. Tapi, jika loe emang butuh pernyataan itu, maka gue akan mengatakannya sekarang. Gue cinta loe, Brigitha Queenza Caesarlyn," ucap Fabian yang tentu saja membuat Queen kini menitikkan air matanya. Ia kemudian berjinjit dan meraih leher lelaki itu dan memeluknya dengan erat. Semua tamu undangan pun bertepuk tangan riuh.

*****

Puncak acara pesta pun dimulai setelah potong kue dan segala hal yang ada dalam roundown acara akhirnya kini tiba saatnya acara bebas dan bersenang-senang. Beberapa penyanyi mempersembahkan lagu selamat ulangtahun untuk Queen, begitu pula dengan para tamu undangan yang ingin menyumbangkan lagu pun diperbolehkan.

Dan kini, tiba giliran Fabian yang diminta bernyanyi oleh teman-temannya.

"Ayolah Bi, nyanyikan sebuah lagu buat Queen," desak Aqilla.

"Apaan sih loe Qill, loe tahu sendiri kan gue nggak bisa nyanyi. Dan juga gue bukan Kenzo ya yang ngerayu cewek lewat lagu...," ucap Fabian.

"Kenapa loe jadi bawa-bawa gue Bi....," ketus Kenzo.

"Iya, gak usah alesan deh, ayo pokoknya loe harus nyanyi buat sahabat gue...," tambah Anastasya dan Reynand.

"Lah, kalian semua ini, mau ya..buat Queen ntar jadi ilfeel setelah denger suara gue...," sahut Fabian.

"Nggak papa kok Bi, gue nggak bakal ilfeel sama loe biarpun suara loe jelek...,"ucap Queen.

"Janji ya, awas ya loe kalau habis ini loe ninggalin gue karena suara gue...,"ucap Fabian.

"Iya, iya janji......," ucap Queen sembari bergelanyut manja di leher Fabian.

"Duuuhhhh sejak kapan sih loe jadi berubah feminim gini Queen, loe kayaknya jadi ketularan Aqilla deh sekarang...," gumam Fabian sebelum beranjak pergi menuju podium.

"Gue denger omongan loe Bi......," teriak Queen dan Aqilla bersamaan. Yang tentu saja membuat Fabian nyengir dan mengucapkan peace dengan jari dua jari tangannya yang diperlihatkannya pada Queen dan Aqilla.

Fabian pun menarik nafas panjang sebelum mulai bernyanyi.

Betapa bahagianya hatiku saat

Ku duduk berdua denganmu

Berjalan bersamamu

Menarilah denganku

Fabian mulai bernyanyi sebuah lagu dari group band payung teduh yang berjudul akad. Dan ketika baru dapat satu bait lagu tawa tamu undangan menciutkan nyalinya, pasalnya mereka tertawa mendengar nada sumbang dari suara Fabian, namun Fabian tetap bernyanyi setelah mendapat tatapan dari Queen yang seolah pertanda bahwa gadis itu masih menginginkan Fabian untuk benyanyi.

*****

Tiga Belas

 

Pesta berlangsung secara meriah, meskipun teman-teman Queen tidak begitu dekat dengannya tapi mereka semua datang di pesta ulang tahun Queen. Pasalnya siapa yang bakal melewatkan pesta ulang tahun yang megah dan gratis pula, semua pasti bakalan datang meski beberapa dari mereka selalu menggunjing Queen dibelakangnya.

Queen sangat cantik dengan mengenakan gaun berwarna putih yang pernah dikenakannya di pesta pernikahan Anastasya, sahabatnya dulu. Queen masih ingat pula karena baju itu akhirnya mengantarkannya untuk bertemu dengan Fabian, seorang lelaki yang dulu sangat di bencinya namun kini lelaki itu telah memiliki tempat tersendiri dihatinya, 

Hampir saja air mata Queen menetes ketika ia mengingat masa lalu. Mengingat saat pertama kalinya bertemu Fabian, mengingat saat mereka saling bersandiwara untuk menggagalkan rencana pertunangan mereka, dan mengingat banyak hal kenangan lainnya yang pernah Queen lalui bersama dengan Fabian. Queen memang tidak begitu lama mengenal Fabian, tapi hari-hari yang ia lalui bersama lelaki itu membuatnya terbiasa dengan keberadaan lelaki itu disampingnya. Namun, kali ini dia harus menggigit bibir karena lelaki itu tidak akan hadir dalam hari bahagianya hari ini.

"Apa loe bener-bener gak baca undangan dari gue, Bian....,"gumam Queen.

Namun, akhirnya Queen pun menyembunyikan kesedihannya ketika ia melihat tamu undangan sudah banyak yang datang. Ia pun begitu terkejut ketika mendapati Anastasya sahabatnya datang. Ia membawa serta Reynand suaminya.

"Selamat ulang tahun sahabatku....," ucap Anastasya sembari mencium kedua pipi Queen.

"Astaga...Cha...loe ngapain pakek datang segala...," ucap Queen.

"Oh, jadi loe gak seneng nih gue dateng jauh-jauh kesini...," ucap Anastasya.

"Yeee..bukan gitu lagi Cha, cuman gue gak nyangka banget loe bakal bela-belain datang kesini cuman buat datengin pesta ulang tahun gue...," seru Queen antusias.

"Yee...sapa juga yang bilang ini cuman demi loe,"

"Lah, terus ngapain dong....?" tanya Queen.

"Gue mau bulan madu sama Reynand disini, jadinya sekalian deh mampir ke ultah loe..," ucap Anastasya.

"Oh...jadi gue cuman dijadiin alasan kedua aja nih sama loe," ucap Queen. "Duhhh....malangnya nasib gue ya selalu dijadiin yang kedua melulu....," ucap Queen yang kemudian dibalas oleh ucapan seseorang yang membuat Queen kembali terkejut untuk kedua kalinya.

"Siapa bilang kamu selalu jadi yang kedua Queen," ucap Aqilla yang sontak membuat Queen terperanjat saking terkejutnya. Sementara Anastasya dan Reynand hanya nyengir-nyengir saja karena drama yang mereka mainkan.

"Aq....qilla...loe....,"

"Kamu pasti mau nanya kenapa aku bisa ada disini kan?" tebak Aqilla yang langsung dijawab anggukan oleh Queen. "Karena dia, " ucap Aqilla menarik tangan Fabian yang tubuhnya bersembunyi dibalik tubuh Kenzo, yang nyaris tak terlihat tubuh lelaki itu karena postur tubuh nya tak jauh berbeda dengan Kenzo.

"Bi...bian.....," pekik Queen terkejut.

"Iya, Fabian. Cowok pengecut inilah yang membuat aku harus datang kemari menemui kamu Queen," jelas Aqilla. Queen pun kembali menatap Aqilla dan tak mempedulikan Fabian sekalipun ia tahu Fabian kini menatapnya dengan perasaan yang sama terlukanya dengan apa yang dirasakan dirinya sendiri.

"Kamu bukan  yang kedua bagi cowok ini Queen," ucap Aqilla sembari menunjuk Fabian yang kini berdiri dengan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain mencoba untuk menghilangkan kegugupannya di depan Queen. "Kamu memang bukan cinta pertama cowok ini Queen, tapi kamu adalah wanita pertama yang ingin dinikahinya...," jelas Aqilla.

"Qilla...it...itu.....,"

"Queen, berhenti berpikir bahwa dirimu adalah pelarian Fabian dariku, dan berhentilah berpikir bahwa kamu adalah yang kedua untuknya Queen. Kamu adalah yang pertama, satu-satunya wanita yang ingin Fabian nikahi, satu-satunya wanita yang ingin dia miliki selamanya dalam hidupnya," Aqilla menatap Queen dan ia tahu gadis itu tengah menahan air matanya untuk jatuh. Dan kemudian dia pun beralih kepada Fabian dan menyuruh lelaki itu mengatakan sesuatu sebelum ia mengakhiri perkataannya pada Queen. "Queen, hubunganku dengan Fabian hanyalah sebatas sahabat, dan dari dulu sampai sekarang dan selamanya pun akan tetap seperti itu. Kamu tahukan aku sudah mempunyai Kenzo dan aku tidak akan pernah berpaling sedikitpun darinya sekalipun Kenzo menyakitiku,"

Setelah mengatakan hal itu kini Aqilla beralih menatap Fabian.

"Dan kamu Fabian, berhenti menjadi pengecut dan cepat selesaikan masalah kamu dengan Queen,"

"Tap...tapi...Qilla....,"

"Nggak ada tapi-tapian, bukanlah kamu yang sedari minggu yang lalu bingung mau ngasih kado apa sama Queen di hari ulang tahunnya, bahkan kamu juga bingung milih jas warna apa yang harus kamu kenakan....," seru Aqilla dengan nada agak tinggi dan menjitak kepala Fabian, yang tentu saja membuat Fabian terdiam kalau Aqilla sudah mengatakan seperti itu. Sementara Anastasya, Reynand, dan Kenzo cekikikan melihat Fabian yang tak berkutik karena Aqilla. Di sisi lain, Queen yang sedari tadi menahan air matanya, kini beralih menahan tawa melihat kelakuan Aqilla pada Fabian. 

Dua Belas

 

Akhirnya, Fabian pun memutuskan untuk pergi ke Indonesia, untuk menghabiskan liburan sekolahnya. Tak ada seorangpun lagi saat ini yang bisa diajakknya bicara kecuali Aqilla. Dan dia pun harus menemui gadis itu dan meminta pendapatnya dan siapa tahu gadis itu dapat memberi solusi untuk masalahnya.

Indonesia

Fabian menuju ke taman belakang rumah Aqilla dan disana dia mendapati Aqilla yang tentu saja sedang berdua dengan Kenzo. Aqilla terlonjak senang ketika mendapati Fabian berada di ambang pintu menuju ke taman belakang. Namun, ketika Aqilla hendak memberikan pelukan kerinduan pada Fabian, Kenzo langsung menariknya dengan possesif.

"Tenang aja bro, gue nggak akan ngerebut Qilla dari loe...," ucap Fabian. Yang kemudian ikut duduk disamping dua sejoli itu.

Aqilla tahu ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu dan dia pun mulai bertanya.

"Ada apa? Apa yang terjadi...?" tanya Aqilla.

Fabian tahu bahwa Aqilla akan menanyakan pertanyaan itu padanya. Dia dapat menebak apa yang ada di kepala gadis itu seperti gadis itu tahu pula bahwa kini dirinya memang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. 

"Kenzo, bolehkan gue pinjam Aqilla sebentar?" pinta Fabian pada Kenzo. Kenzo yang semula hendak menolak permintaan Fabian segera mengiyakan ketika mendapat kode dari Aqilla. Dia tahu dan paham bahwa Fabian memang butuh berbicara dengan Aqilla kali ini. Kenzo pun pergi meninggalkan mereka berdua agar bisa berbicara dengan nyaman.

Selepas kepergian Kenzo, Fabian pun bercerita pada Aqilla tentang permasalahannya yang memang gadis itu sedikit tahu karena Fabian beberapa kali bercerita melalui telpon dengan Aqilla.

"Apa yang terjadi?" tanya Aqilla lagi.

"Dia pergi Qilla, dia menjauhiku....," ucap Fabian. "Dia pergi dan semua ini karena kesalahanku, keegoisanku...," seru Fabian lagi.

"Bi...semuanya bukan karena kesalahanmu Bi. Mungkin, Queen hanya belum bisa mempercayaimu saja, kau harus bisa buktilan padanya bahwa kau bersungguh-sungguh saat kau menyatakan bahwa kau ingin menikah dengannya..," ucap Aqilla.

"Sudah Qilla, aku sudah mencoba meyakinkannya bahwa aku benar-benar sudah melupakanmu dan aku..aku.....mencintainya....," ucap Fabian.

"Apa kau pernah berkata padanya bahwa kau mencintainya sebelum kamu melamarnya?" tanya Aqilla lagi. Dan Fabian pun menggelengkan kepalanya.

"Itulah akar permasalahannya Bi. Kamu tidak menyatakan perasaanmu yang sebenarnya bahwa kamu mencintainya...,"jelas Aqilla.

"Tapi...Qilla...apa itu penting? Bukankah dengan menunjukkannya dengan perilakuku saja ia akan bisa mengerti perasaanku?" tanya Fabian.

"Tidak setiap orang tahu perasaan seseorang melalui perilakunya Fabian. Dan hal itu juga bukan berarti bahwa Queen tidak cukup peka dengan semua hal yang telah kamu lakukan untuk menunjukkan perasaanmu padanya Fabian. Dia wanita biasa sama sepertiku yang juga butuh pernyataan cinta dari lelaki yang dicintainya, agar dia bisa tahu dengan pasti tanpa harus menerka-nerka lagi,"

Fabian pun mengangguk-anggukkan kepalanya seraya mengerti semua penjelasan Aqilla.

 

Sementara di tempat lain.

Brigitha akhirnya mendatangi rumah orang tua Fabian, setelah dia tidak dapat menemui lelaki itu di apartemennya. Dia ingin memberikan undangan itu kepada laki-laki itu karena walau bagaimanapun hubungan mereka kini, Fabian tetaplah temannya dan dia tidak mungkin ia tidak memberikan undangan itu pada Fabian. Dan lebih dari apapun, Queen memang menyimpan keinginan bahwa lelaki yang kini sudah dapat mencuri hatinya itu datang di hari istimewanya.

Ting...Tong....Ting.....Tong....

Seorang perempuan separuh baya keluar dari rumahnya dan tentu saja Queen tahu siapa itu.

"Tante.....," sapa Queen.

"Eh...kamu Brigitha...ah...Queen...tante panggil dengan sebutan itu saja ya supaya sama dengan panggilan Fabian untukmu...," jelas Mama Fabian yang langsung disambuti anggukan oleh Queen. "Eng...masuk dulu Queen....," pinta Mama Fabian.

"Ah...tidak tante, Queen cuman sebentar saja. Fabiannya ada tante...?" tanya Queen.

"Oh,,,Fabiannya nggak ada Queen. Dia pergi ke Indonesia, katanya kangen dengan Aqilla...," jelas Mama Fabian.

Queen yang mendengar hal itupun hanya bisa terdiam karena keterkejutannya.

"Bercanda Queen, jangan masukin di hati. Fabian pergi kesana cuman ada perlu sebentar dengan Aqilla kok," jelas Mama Fabian kemudian.

"Ah begitu...kira-kira Fabian kapan pulang ya tante?" 

"Eh..kalau itu tante kurang tahu sayang. Kenapa nggak kamu sendiri saja yang tanya padanya," ucap Mama Fabian. Dan ketika menatap wajah calon menantunya yang menyembunyikan sesuatu yang tidak beres itupun mama Fabian berucaplagi. "Hubungan kalian baik-baik saja kan?" tanya Mama Fabian kemudia. Dan diangguki oleh Queen.

"Ya sudah kalau begitu Queen pamit dulu ya Tante..," 

"Ah...buru-buru amat Queen, padahal tante mau ajak kamu bikin kue...,"

"Ma'af tante lain kali aja ya, Queen masih ada sedikit urusan,"

"Ah, baiklah kalau gitu... hati-hati ya. Dan jangan lupa hubungin Fabian kapan dia pulangnya..,"

"Baik tante...," ucap Queen yang kemudian pergi meninggalkan rumah Fabian dengan tetap menyembunyikan undangan itu di balik badannya. Ketika keluar rumah itu, akhirnya Queen pun memutuskan untuk kembali ke apartemen Fabian dan meletakkan undangan itu di kotak surat Fabian, entah kapan lelaki itu membukanya kemudian Queen pun tak peduli.

"Kenapa loe nemuin Aqilla lagi Bian, apa terjadi sesuatu dengan Aqilla? Apa dia sakit lagi? Apa sebegitu pentingnya dia bagimu?" gumam Aqilla dengan pemikirannya sendiri.

 

 

Sebelas

 

Ujian telah usai beberapa saat lalu, dan akhirnya baik Brigitha ataupun Fabian merasa lega. Hingga akhirnya mereka pun melepaskan penat dengan berbaring tiduran di tempat tidur lebih awal dari biasanya. Brigitha menempati tempat tidur Fabian, sementara Fabian tidur di sofa ruang tamu. 

Brigitha terkejut bukan main, ketika sebuah tangan melingkar di sekitar pinggangnya. Ia mengucek matanya dari posisi bangun tidurnya, mencoba untuk melihat siapa pemilik tangan itu. Dan seketika itu dia pun mengerjap-ngerjapkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di dorongnya lelaki itu dengan sekuat tenaganya ketika kesadaran sudah menguasainya. Sang lelaki pun mengaduh ketika dia tahu bahwa dirinya kini tengah berada di bawah tempat tidurnya dan dibangunkan dengan paksa oleh rasa sakit dikepalanya karena benturan kecil itu.

"Loe apa-apaan sih Queen,,,," teriak Fabian.

"Apa-apaan, apa-apaan. Harus nya tuh ya gue yang nanya ke loe, loe yang apa-apaan...?" tanya Brigitha.

"Maksud loe...?" Fabian balik bertanya.

"Loe ngapain tidur di tempat tidur ini. Dan ngapain juga loe pakek tidur peluk-peluk gue...," ucap Queen.

"Hadeh..jadi ini semua hanya karena itu...,"

"Apa...loe bilang hanya. Loe tidur dan loe pel....luk...,"

Fabian berjalan mendekati Brigitha dan tentu saja membuat gadis itu melangkah mundur dari hadapan Fabian. Namun, bukan Fabian namanya kalau menyerah dengan Brigitha.

"Di luar dingin Queen, jadinya gue pindah tidur disini...," jelas Fabian.

"Tap...tapi...gak perlu peluk-peluk segala dong...," ucap Brigitha.

"Hahhh....jadi loe gak inget siapa yang lebih dulu meluk....," ledek Fabian yang tentu saja membuat Brigitha makin penasaran dengan apa yang tengah terjadi.

Akhirnya Fabian pun menceritakan kejadian semalam. Bahwa listrik tengah mati dan membuat Brigitha ketakutan. Hingga akhirnya dia pun memeluk Fabian yang tertidur di sampingnya dengan erat. Fabian pun memeluk Brigitha dan memberi kenyamanan yang Brigitha inginkan agar ketakutannya hilang. Brigitha yang mendengarkan penuturan dari cerita itupun kini kembali mengingat-ingat apa yang terjadi. Dan ketika ingatannya memang sama persis dengan apa yang diceritakan oleh Fabian, ia pun kemudian tertunduk karena malu.

"Hahaaha...loe kayaknya udah inget kejadian semalam rupanya," ucap Fabian melihat tingkah Brigitha yang menunduk malu.

Brigitha hanya menunduk dan tak berani menatap wajah Fabian. Ia merasa malu bahwa ternyata lelaki yang dulu dibencinya itulah yang kini tahu kelemahannya. Ia merasa bahwa dirinya sudah tak punya harga diri lagi di hadapan lelaki itu.

"Loe kenapa?" tanya Fabian kemudian yang melihat Brigitha diam tak berkutik dan bahkan wanita itu tak menanggapi candaannya sedikitpun. 

Brigitha hanya menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Fabian dan kemudia dia menggerakkan kakinya untuk melenggang pergi meninggalkan lelaki itu. Namun, tiba-tiba pergelangan tangannya di tarik oleh Fabian.

Fabian mendekatkan tubuhnya pada tubuh Brigitha. Ia memeluk Brigitha dari belakang dengan tetap memegang pergelangan tangan Brigitha. Brigitha sempat menolak pelukan Fabian, tapi tenaganya tak cukup mampu untuk membuat lelaki itu melepaskan pelukannya. 

Mereka tetap berada pada posisi itu selama beberapa menit dan kemudian Brigitha merasakan sebuah kecupan hangat di rambutnya. 

"Ayo menikah, Queen.....," ucap Fabian kemudian dan tentu saja hal itu membuat Brigitha terkejut. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya saat mendengar pernyataan Fabian.

Brigitha kemudian melepaskan pergelangan tanggannya dari genggaman Fabian dan membuat Fabian pun melepaskan pelukannya dari Brigitha.

Brigitha kemudian menatap kedua mata lelaki itu. Fabian terkejut dengan tatapan mata Brigitha yang dipenuhi dengan cairan bening di pelupuknya.

"Pernikahan bukanlah sebuah permainan Fabian, jadi jangan pernah bermain dengan kata-kata "ayo menikah"...," ucap Brigitha.

Fabian tahu wanita dihadapannya itu tidak percaya dengan apa yang dikatakannya atau lebih tepatnya wanita itu meragukannya.

"Gue nggak main-main Brigitha. Gue bersungguh-sungguh....," jelas Fabian. "Atau mungkin loe tak percaya karena gue nggak mengusulkan pernikahan itu dengan sebuah rencana yang romantis seperti di acara-acara drama yang sering loe tonton...?" tanya Fabian. "Ma'af Queen kalau karena itu...loe....,"

"Cukup Fabian, berhenti bercanda. Gue nggak percaya sama omongan loe. Kenapa loe tiba-tiba ngusulin buat kita nikah? Apa loe merasa kasian sama gue, setelah loe tahu semua kelemahan gue? Dan bagaimana mungkin gue akan percaya kalau loe sungguh-sungguh jika nyatanya di hati loe hanya ada Aqilla. Gue nggak mau jadi pelarian loe dari Aqilla....," ucap Brigitha yang kemudian pergi menuju ke kamar mandi dan mengunci pintu itu dari dalam.

Fabian melihat kedua mata wanita itu meneteskan air mata saat mengatakan hal itu terhadapnya. Dia tahu bahwa wanita itu tidak mempercayai ucapannya.

"Gue nggak melakukan itu karena rasa kasihan Queen, dan juga loe bukan pelarian gue dari Aqilla...," desah Fabian.

Sepuluh

 

Fabian terkejut melihat siapa yang berada di depan pintu apartemennya ketika ia membukanya beberapa waktu lalu. Dengan kikuk akhirnya dia pun mempersilahkan orang tua Queen untuk masuk ke dalam apartemennya tapi mereka menolaknya.

"Silahkan masuk Om, tante...," pinta Fabian.

"Tidak usah Nak, kami kemari cuman mau nganterin Brigitha kok..," ucap Mama Queen.

"Mak..maksud tante?" tanya Fabian.

"Gini Fabian, tante sama om harus pergi ke luar kota dan kami tidak bisa meninggalkan Brigitha sendirian di rumah, karena itu kami bermaksud menitipkan dia ke kamu, mengingat kalian juga akan ujian mulai besok kami jadi tidak bisa mengajak Brigitha buat pergi bersama..," jelas Papa Brigitha.

"Iya, nak Fabian. Lagi pula kami juga sudah bilang ke orang tua kamu katanya nggak papa kok kalau Githa di titipin ke kamu, memang mama kamu nggak bilang apa-apa..?" tanya Mama Brigitha.

"Eh...nggak tante. Mama cuman bilang kalau dia juga mau ke luar kota sama Papa tadi sore..," jelas Fabian.

"Oh, begitu..mungkin mama kamu lupa memberitahu kamu Fabian. Jadi, karena orang tua kamu juga gak bisa dititipin Githa kamu gak masalah kan kalau Githa sama kamu selama seminggu ke depan?" tanya Mama Githa.

Fabian hanya menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Sementara Githa, merasa malu di depan lelaki itu, pasalnya mamanya menitipkan dirinya seolah dirinya adalah barang.

"Ma, sudah Githa bilang, Githa di rumah saja, Githa gak masalah di rumah sendirian..," cetus Githa.

"Nggak ada pokoknya, kamu nggak ingat waktu kamu sendirian di rumah enam bulan yang lalu, karena itu kamu sampai patah tulang dan tidak bisa masuk sekolah beberapa minggu. Mama pokoknya nggak akan biarin kamu sendirian di rumah...," jelas Mama Brigitha.

Fabian yang mendengar penuturan dari mama Queen melongo tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita separuh baya itu. Menurutnya Queen sudah dewasa dan nggak mungkin hanya karena dia tinggal sendirian di rumah bisa mengakibatkan sesuatu yang buruk pada gadis itu.

"Pat..patah tulang? Bagaimana mungkin tante? Queen udah gedhe gini...," ucap Fabian tak percaya.

"Huft...mana ada seorang Queen bisa jadi dewasa Fabian. Usianya aja yang dewasa tapi kelakuan jangan harap. Dia itu ceroboh dan penakut. Kalau listrik padam dia akan ketakutan dan langsung menjerit histeris juga langsung belari keluar kamarnya sampai-sampai ia tak sadar kalau kamarnya itu ada di lantai dua hingga dia akhirnya jatuh dari tangga dan membuat kaki sebelah kanannya patah. Dan untung saja tidak begitu parah dan dia masih bisa berjalan lagi..," jelas mama Brigitha.

Queen mendengus kesal dengan perkataan mamanya yang masih menganggapnya belum dewasa sementara Fabian senyum-senyum kecil melihat wajah kesal Queen, ia kini tahu  satu kelemahan dari cewek di depannya itu.

"Jadi..untuk menghindari hal-hal yang seperti itu terjadi lagi, tante nitip Brigitha ke kamu, boleh kan...?" ucap mama Brigitha lagi.

"Boleh..kok tante...it's oke....," ucap Fabian.

*****

Mobil orangtua Brigitha melaju meninggalkan apartemen Fabian. Dan di saat itulah Brigitha merasa kikuk di depan Fabian. Ia masih berdiri di ambang pintu.

"Loe ngapain berdiri aja di situ? Loe nggak mau masuk...?" tanya Fabian.

"Em...em...gu...gue.....," 

"Loe kenapa? Loe gak mau tinggal di sini?" tanya Fabian lagi.

"Buk...bukan begitu Bian, gue....,"

"Oh, sekarang loe ngasih panggilan sayang ke gue, "Bian" boleh juga..," goda Fabian sementara Brigitha bersemu merah pipinya. Ia tak bermaksud untuk memberikan panggilan khusus untuk Fabian, tapi entahlah kata itu terlontar begitu saja.

"Udahlah Queen, masuk sekarang...," ucap Fabian sembari menarik tangan Brigitha.

"Jangan-jangan loe gak mau masuk karena takut sama gue...," selidik Fabian.

"Eng...enggak, ngapain juga gue harus takut sama loe...," ucap Brigitha yang akhirnya kini mencoba bersikap santai dan kini duduk di samping Fabian.

"Oh, gitu loe beneran gak takut sama gue...?"

"Beneran gue gak takut, kenapa juga gue harus takut sama loe,,," ucap Brigitha mantap.
Namun seketika Fabian menarik dagu Brigitha hingga gadis itu memandangnya.

"Bohong...jelas-jelas loe nunduj gitu tadi, itu artinya loe takut sama gue...," ucap Fabian.

"Gu..gue cuman....,"

Fabian menghentikan ucapan Brigitha dengan kecupan kecil di bibir gadis itu hingga gadis itu terkejut. Fabian menatap raut wajah Brigitha dan tersenyun licik.

"Loe memang harus takut sama gue, karena loe sudah masuk ke kandang gue...," ucap Fabian sembari meninggalkan Brigitha yang masih terbengong di tempat duduknya.


*****

 

Sembilan

 

Queen mendengus kesal atas kelakuan Fabian yang mengacak rambutnya. 

"Ish..loe nih...rambut gue jadi berantakan kan...," ujar Queen. "Memang terlahir menjadi cantik, apakah itu sebuah kejahatan ya?" tanya Queen yang tentu saja membuat Fabian membelalak kaget. Ia tak percaya bahwa Queen akan menanyakan pertanyaan seperti itu padanya.

"Terlahir cantik dan sempurnah bukanlah kejahatan Queen, tapi itu adalah anugerah yang Tuhan berikan. Mereka yang menghina dan memfitnahmu itu karena mereka merasa iri padamu. Mereka tidak percaya diri atas apa yang telah Tuhan berikan pada mereka, karena itulah mereka mengucilkanmu dan membuat citramu menjadi buruk di depan semua orang hanya demi membuat dirinya sendiri merasa menjadi lebih baik," jelas Fabian.

"Oh begitu....ya....,"ucap Queen dengan senyuman ke arah Fabian.

Melihat gadis itu tersenyum membuat Fabian merasakan sesuatu yang aneh berdesir di tubuhnya. Terlebih setelah berbicara panjang dan lebar dengan gadis itu. Ia jadi mengerti tentang semua hal yang tersembunyi di balik wajah ceria dan gaya tomboy Queen. Fabian pun mendekatkan wajahnya pada wajah Queen, dan kemudian mencium gadis itu tepat di bibirnya. Dan akhirnya mereka pun berciuman. Keheningan pun tercipta seketika diantara mereka.

"Ken..kenapa loe cium gue lagi....?" tanya Queen kemudian memecah keheningan.

"Kenapa loe balas ciuman gue...?" tanya Fabian balik yang tentu saja membuat Queen menunduk karena malu, dia berusaha menyembunyikan blushing di pipinya.

Fabian tersenyum kecil. Dan kemudian berucap.

"Tidak ada lagi ide yang ada di otak gue buat batalin pertunangan itu. Kita terima aja semua itu dan mencoba menjalaninya. Toh, hanya pertunangan kan, bisa putus kapan aja kalau kita memang benar-benar tidak cocok dan tidak bisa bersama-sama lagi..," ucap Fabian sembari menatap wajah Queen yang telah diangkatnya dagu gadis itu hingga membuat gadis itu menatapnya. Gadis itu pun mengangguk kemudian.

Fabian pun kemudian pergi meninggalkan Queen yang masih terpaku dengan keterkejutannya karena ciuman Fabian. Dan dia pun masih tak percaya bahwa dirinya pun membalas ciuman Fabian. Dia merutuki dirinya sendiri apakah dirinya telah terperangkap dengan pesona Fabian?

"Huft, ada apa dengan gue. Dan ada apa dengan jantung gue ini," gumam Queen yang merasakan jantungnya berdegub kencang di atas normal. "Apakah gue terserang aritmia...? Apakah gue perlu priksa ke dokter...?" pikir Queen.

*****

Mama dan papa Brigitha menyiapkan beberapa koper dan begitu pula dengan koper Brigitha yang berwarna soft pink. Brigitha yang baru saja hendak masuk ke dalam rumah tentu saja menjadi terkejut melihat hal itu. Ia penasaran kenapa papa dan mama nya menyiapkan koper-koper itu.

"Ma, Pa...ini ada apa? Kenapa banyak koper?" tanya Brigitha.

"Eh, kamu udah pulabg Gith...?" Bukan menjawab pertanyaannya Mama Brigitha malah balik bertanya. Dan untuk menjawab pertanyaan mamanya Brigitha hanya menganggukkan kepalanya.

"Ayo, kalau gitu kita langsung berangkat aja..?" Ucap mmnya setelah papa Brigitha selesai memasukkan semua koper itu ke bagasi mobil.

"Eh...berangkat ke mana ma? Mama sama papa mau ke luar kota? Githa di rumah aja ma, Githa gak bisa ikut karena ada ujian besok..," ucap Githa.

"Ish...kamu ini udah deh diem aja masuk mobil sana...," pinta mama Brigitha.
Meski mobil telah melaju meninggalkan rumah Brigitha beberapa meter, Brigitha masih belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang diajukannya sebelumnya pada mamanya.

"Ma, sekarang ngomong deh buruan kita mau kemana, kalau nggak Githa bakal loncat dari mobil nie...," ancam Githa.

"Duhhh..iya..iya sayang. Mama sama papa ada urusan dan harus pergi ke luar kota, dan mama tentu saja gak bisa ngajak kamu karena kamu akan mulai ujian besok, tapi kami tidak bisa biarkan kamu sendirian di rumah makanya kami ajak kamu buat di titipkan...," jelas mamanya.

"Whats...ma Githa bukan anak kecil lagi. Githa gak masalah sendirian di rumah...," ujar Githa.

"Gak papa gimana. Ntar kalau tiba-tiba listrik mati selama papa dan mama gak ada di rumah gimana? Kamu kan takut gelap banget, jadi mama gak bisa ninggalin kamu di rumah sendirian,"

"Ish..mama.nih....terus mama mau nitipin Githa ke siapa? Temen mama yang mana?" tanya Githa.

"Ada deh...ayo cepet turun kita udah sampai..." ujar mamanya.
Kemudian mereka pun turun dengan membawa dua buah tas koper yang berisi barang-barang keperluan Githa.

Mereka memasuki lift dan kemudian sampai di sebuah kamar apartemen yang bernomor 17. Mama Githa memencet bel pintu apartemen itu hingga kemudian muncul seorang lelaki di balik pintu itu. Githa yang masih sibuk dengan kopernya tidak begitu memperhatikan ketika mamanya mulai memencet bel itu.

"Hai, nak Fabian....," sapa mamanya pada seorang lelaki yang berdiri di depan pintu itu yang tentu saja membuat tidak hanya lelaki itu yang terkejut melihat siapa yang berada di depan pintu apartemennya, tetapi juga Githa yang sibuk dengan kopernya itu menjadi mengalihkan pandangannya dari kopernya ke wajah lelaki itu ketika dia terkejut mendengar mamanya memanggil nama lelaki itu.

*****

 
Aera's Story Blogger Template by Ipietoon Blogger Template